tes word
PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH GERAKAN LITERASI TERHADAP KARAKTER GEMAR MEMBACA DAN RASA INGIN TAHU SISWA DI SDN 201 INPRES PALEMBA
THE INFLUENCE OF THE LITERACY MOVEMENT ON THE CHARACTER READING PLEASURE AND CURIOSITY OF STUDENT AT SDN 201 INPRES PALEMBA
HARIYATI HAMSAH
1847441028
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2021
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karakter adalah watak, sifat, budi pekerti, akhlak, tabiat atau kejiwaan yang menjadi pembeda antara individu dengan individu yang lain. Karakter dapat juga diartikan sebagai kepribadian. Penanaman karakter merupakan salah satu dari tujuan sistem pendidikan di Indonesia, terampil, pandai, harga diri yang kuat dan kukuh, tahu kemampuan dan batas kemampuannya, mempunyai kehormatan, jujur dan memiliki akhlak mulia (Kurniawan, 2018).
Karakter adalah hal paling penting yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik dengan alasan bahwa hal yang paling pertama sekali dinilai dari diri seseorang adalah tabiat, sifat, akhlak dan wataknya. Oleh karena itu perlu adanya sarana untuk menanamkan dan menguatkan pendidikan karakter. Berdasarkan Permendikbud Nomor 20 Pasal 2 Tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter memuat bahwa pelaksanaan penguatan pendidikan karakter (PPK) dilakukan dengan menerapakan nilai nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, peduli sosial, semangat kebangsaan, demokratis, cinta tanah air, rasa ingin tahu, komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, menghargai prestasi, cinta damai dan bertanggung jawab (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2018).
Globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara yang belum siap untuk menghadapi era globalisasi. Kemajuan peradaban bangsa melalui penguasaan literasi dalam berbagai bidang menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Namun masih menjadi permasalahan bagi Indonesia dengan tingkat budaya membaca warga negaranya yang tergolong masih rendah sesuai dengan pernyataan dari Programe for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2009 bahwa Indonesia menempati peringkat ke-57 dengan skor hanya 396 dari skor rata-rata OECD 493. Survei Programe for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2012 menyatakan bahwa peserta didik di Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 dari skor rata-rata OECD 496. (Utami & Kawan-kawan, 2016).
Survei terbaru PISA pada tahun 2015 yang pengumumannya dilakukan pada tanggal 6 Desember 2016 menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 72 negara yang mengikuti survei. Survei lain yang dilakukan oleh Trends in Internationl Mathematics and Science Study (TIMS) dan Progres in International Reading Literacy Study (PIRLS) juga menyatakan Indonesia di peringkat yang sama. Dari ketiga survei tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat budaya baca peserta didik Indonesia semakin menurun dan dapat disimpulkan bahwa tingkat praktik pendidikan yang dilaksanakan di sekolah belum memperlihatkan fungsi sekolah sebagai suatu organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi terampil membaca dalam rangka mendukung mereka sebagai pembelajar sepanjang hayat (Antoro, 2018).
Tidak optimalnya sekolah sebagai organisasi pembelajaran, mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 untuk merancang sebuah gerakan besar yaitu Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini menjadi wujud pelaksanaan dari peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang didalamnya memuat gerakan literasi sekolah, yang salah satunya adalah kegiatan membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai (Wiedarti, 2016).
Program-program yang ada di sekolah dapat menjadi salah satu sarana penanaman dan penguatan karakter bagi peserta didik. Salah satu program tersebut adalah program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan literasi sekolah merupakan gerakan sosial dengan dukungan kolaborasi dari berbagai elemen. Pembiasaan membaca bagi peserta didik sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan cita-cita sekolah sebagai organisasi pembelajar dengan warga yang literet sepanjang hayatnya (Wiedarti, 2019). Kegiatan literasi sekolah melibatkan seluruh elemen sekolah seperti peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, komite sekolah, pengawas sekolah, orang tua atau wali murid, akademisi, media massa, penerbit, tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan dibawah koordinasi Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Gerakan Literasi Sekolah dilandaskan pada Sembilan agenda prioritas atau disebut juga Nawacita, ini berdasarkan buku panduan Gerakan Literasi Sekolah yang telah diterbitkan oleh Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan. Sembilan agenda Nawacita tersebut tentunya berkaitan dengan fungsi dan tugas dari Kemendikbud, terkhusus pada butir nomor 5 dan 8. Butir ke-5 dan 8 yang dimaksud adalah: 5) meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dan 8) melakukan revolusi karakter bangsa (Wiedarti, 2016). Melalu Gerakan Literasi Sekolah ini peserta didik diharapkan memiliki kesadaran untuk berpikir kritis dan mempelajari sesuatu yang baru berbekal dari pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Jadi pembentukan karakter pada siswa sebagai seorang peserta didik dapat ditanamkan dan dikuatkan melalui Gerakan Literasi Sekolah terutama pada poin gemar membaca dan rasa ingin tahu.
Pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh wilayah Indonesia. Kesiapan tersebut mencakup kesiapan kapasitas (sarana dan prasarana, bahan bacaan dan ketersediaan fasilitas literasi), kesiapan warga sekolah dan kesiapan pendukung yang lain seperti dukungan kelembagaan, partisipasi publik dan perangkat kebijakan yang relavan (Wiedarti, 2016).
SDN 201 Inpres Palemba merupakan salah satu dari sekolah dasar di Kabupaten Takalar yang telah melaksanakan program Gerakan Literasi Sekolah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan calon peneliti selama kurang lebih lima bulan bertugas sebagai peserta Kampus Mengajar di sekolah tersebut dan berdasarkan observasi dan wawancara awal yang telah dilakukan calon peneliti ditemukan bahwa SDN 201 Inpres Palemba telah melaksanakan program Gerakan Literasi Sekolah dalam menanamkan karakter gemar membaca dan rasa keingin tahuan pada peserta didiknya melalui kegiatan membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, pembuatan pojok baca pada taip-tiap kelas dan Fasilitas Perpustakaan.
Dari hasil lembar observasi dan lembar wawancara pra penelitian dengan kepala sekolah dan guru di SDN 201 Inpres Palemba yang dilaksanakan bulan Desember 2021 dan juga pengamatan selama calon peneliti bertugas di SDN 201 Inpres Palemba ditemukan bahwa sekolah tersebut sudah menyediakan sarana buku bacaan non pelajaran yang tertata rapi di ruang perpustakaan dan tiap-tiap pojok baca sehingga peserta didik dapat mengambil dan membaca buku tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
Permasalahan yang dihadapi oleh SDN 201 Inpres Palemba adalah kurangnya rasa gemar membaca dan rasa keingin tahuan siswa. Hal ini dapat dilihat pada saat kegiatan literasi dilaksanakan masih terdapat banyak siswa yang kurang memamfaatkan waktu untuk membaca, sebagian siswa lebih memilih mengobrol, bercanda, saling mengganggu dan izin keluar masuk kelas. Secara tidak langsung hal ini dapat membentuk karakter peserta didik yang tidak gemar membaca dan kurang rasa keingin tahuan. Padahal diadakannya kegiatan literasi di sekolah diharapkan dapat menumbuhkan dan menguatkan karakter gemar membaca dan rasa ingin tahu peserta didik. Oleh karena itu calon peneliti tertarik ingin meneliti tentang “Pengaruh Gerakan Literasi Terhadap Karakter Gemar Membaca dan Rasa Ingin Tahu Siswa di SDN 201 Inpres Palemba”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus permasalahan yang terdapat pada latar belakang, maka dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh gerakan literasi terhadap karakter gemar membaca siswa di SDN 201 Inpres Palemba?
2. Adakah pengaruh gerakan literasi terhadap karakter rasa ingin tahu siswa di SDN 201 Inpres Palemba?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh gerakan literasi terhadap karakter gemar membaca siswa di SDN 201 Inpres Palemba.
2. Untuk mengetahui pengaruh gerakan literasi terhadap karakter rasa ingin tahu siswa di SDN 201 Inpres Palemba.
D. Mamfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan mamfaat, baik itu yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis sebagai berikut:
1. Mamfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan mengenai literasi dalam dunia pendidikan dan menjadi bahan pengembangan keilmuan di bidang pendidikan formal, utamanya literasi sekolah berupa karakter gemar membaca dan rasa ingin tahu di pendidikan formal.
2. Mamfaat praktis
a. Bagi guru
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh tenaga pendidik sebagai sumber informasi untuk menambah wawasan dalam melaksanakan kegiatan literasi di sekolah. Sehingga generasi yang memiliki pembiasaan literasi sepanjang hayat dapat terwujud.
b. Bagi peserta didik
Hasil dari penelitian ini berguna untuk memotivasi peserta didik untuk lebih mau membaca dan menjadikan peserta didik gemar membaca. Sehingga dengan gemar membaca rasa ingin tahu peserta didik akan tumbuh dan menjadikan peserta didik memiliki pengatahuan yang luas di era globalisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Antoro, B. (2018). Gerakan Literasi Sekolah dari Puncak Hingga Akar Sebuah Refleksi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Indonesia, M. P. dan K. R. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pub. L. No. 20, 3 (2018). Indonesia. Retrieved from https://kemendikbud.go.id. Diakses pada 24 Januari 2022.
Kurniawan, W. A. (2018). Budaya Tertib Siswa di Sekolah. Sukabumi: Jejak.
Utami, D., & Kawan-kawan, D. (2016). Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dsar. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiedarti, P. (2016). Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menegah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiedarti, P. (2019). Desain Induk Gerakan LIterasi Sekolah. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menegah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Komentar
Posting Komentar